Laksana Pengembara, Dunia Bukanlah Tujuan Kita

oleh
Hadits ke-40 dari Kitab Hadits Arba'in yang disusun oleh Imam Nawawi
Hadits ke-40 dari Kitab Hadits Arba’in yang disusun oleh Imam Nawawi

Ditulis kembali oleh:
Siti Fatimah, SPd
(Kader PKS DPC Palmerah, Kota Jambi)

Pksjambi.id (25/10) — Dari Ibnu Umar r.a berkata : Rasulullah shallahu’alaihi wasallam memegang kedua pundak saya seraya bersabda: Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara, “Ibnu Umar berkata: Jika kamu berada di sore hari, jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu” (Riwayat Bukhari)

Hadits ke-40 dari Kitab Hadits Arba’in yang disusun oleh Imam Nawawi ini mengandung banyak hikmah dan pelajaran. Di antaranya adalah:

1) Tidak menunda-nunda kebaikan kecuali menyegerakannya, memperbanyak ketaatan, tidak lalai dan senantiasa menjaga waktu karena kita tak pernah tahu kapan datangnya ajal.

2) Gunakan kesempatan yang ada untuk menambah amal, sebelum semua itu segera berlalu dan jadi penyesalan. Jangan kehilangan momentum.

3) Zuhud bukan berarti menjauhi dunia dan fokus akhirat, akan tetapi zuhud artinya tidak butuh kepada dunia padahal dunia butuh kepadanya. Apabila ia punya harta, harta tersebut tidak menghalanginya dari jalan Allah. Tetapi apabila ia tak punya harta, maka ia pun tetap pada ibadahnya, tiada menyalahkan taqdir, dan take pula terbesit di hati untuk iri pada rezeki orang lain. Karena orang zuhud meyakini bahwa apa yang luput darinya di dunia, maka ia akan mendapatkan yang jauh berkali-kali lipat lebih baik di akhirat kelak.

4) Orang mukmin diibaratkan sebagai pengembara yang menempuh perjalanan. Dengan tujuan bahwa dunia hanya tempat untuk menunaikan kebutuhannya dan mempersiapkan diri. Kepada kehidupan akhirat hatinya telah terikat sebagai tempat kembali dari pengembaraan.

5) Negeri yang penuh dengan ujian adalah dunia sehingga harus selalu waspada. Sebagai seorang pengembara yang mendapatkan tugas di dunia, maka ia selalu mempercepat perjalanannya agar urusannya segera selesai.

6) Harapan, kecintaan, dan ketaatan hanya kepada Allah tempat bergantung. Senantiasa tawadhu dan bertaubat kepada Allah agar jiwanya terpelihara. Berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat.

7) Kesigapan mengatur waktu bisa menjadikan kebahagiaan luar biasa, dan kelalaian terhadap waktu bisa menjadikan penyesalan luar biasa. Amal shaleh menjadi prioritas dan dilakukan secara konsisten. Sebab cara cerdas meraih khusnul khotimah adalah dengan beramal sholeh.

8) Sebagai teladan sepanjang masa, Rasulullah memberikan contoh agar menjaga sikap saling asah, asuh, dan asih dalam menyampaikan ilmu. Untuk menunjukkan sikap dukungan dan wujud rasa mengasihi maka Rasulullah memegang kedua pundak Ibnu Umar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.