Hikmah Psywar dalam Peperangan Thalut – Jalut

oleh



Ustadz Junaidi
Sekretaris Wilda PKS Sumbagsel

Jambi (26/10) — Memenangkan peperangan, tidaklah harus berdarah-darah. Perang di era demokrasi adalah psywar, cyber battle, perang berita. Pilkada 2018 dan Pemilu 2019 adalah puncak peperangan baynal haqq wal baathil. Perang pemikiran, perang ideologi. Apakah semua kader menyadari bahwa sebenarnya kita sedang menghadapi perang itu sekarang?

Belajarlah dari siroh berikut ini, bagaimana memenangkan pertarungan dengan operasi senyap (silent operation). Tanpa bertengkar, tanpa luka, bahkan tanpa korban jiwa di pihak kita. Sejarah kenabian telah mengajarkan, tinggal kita renungi, pelajari, dan terapkan sesuai tantangan zaman saat ini.

Peperangan Thalut vs Jalut

Rakyat Bani Israil sudah lama menunggu-nunggu, menagih kepada Nabi mereka, kapan mereka akan perang melawan Jalut, rezim yang berkuasa di tanah Palestina? (QS.2:246). Tapi ketika akhirnya pemerintah Sam’un mengangkat Thalut menjadi panglima perang, rakyat Bani Israil justru meragukan kapabilitas Thalut karena mereka terbiasa menunjuk pejabat dari kalangan the have (orang kaya), sedangkan Thalut adalah seorang pemuda miskin, penggembala ternak.

Padahal menurut Allah, terpilihnya Thalut adalah karena ia memiliki 3 faktor leadership yakni: taqdir ilahi (memang orang itulah yang dipilih Allah), cerdas berwawasan luas, dan memiliki kemampuan fisik di atas rata-rata kaumnya (QS.2:247). Faktor kekayaan pribadi tidak masuk hitungan Allah.

Sebagai qiyadah Thalut mengingatkn shaff jundiyahnya bahwa akan ada ujian psy war berupa sebuah sungai. Ibnu Katsir menyebut ada 80.000 pasukan menghampiri sungai tersebut dalam keadaan haus dan letih.

Ujian keta’atan dimulai ketika Thalut melarang keras meminum air sungai itu kecuali sekedar setangkup tangan (QS.2:249). Terbukti sungai itu meruntuhkan mental pasukan, mayoritas tidak kuat godaan untuk mandi dan minum sepuas-puasnya. Akibatnya 74.000 pasukan melemah niatnya untuk ikut perang. Mereka merasa pesimis bisa mengalahkan Jalut dan pasukannya. Hanya tersisa 6000 orang saja di antara yang ta’at kepada perintah Thalut, yang masih sanggup meneruskan perjalanan. Mereka umumnya adalah orang-orang sholeh di kalangan Bani Israil.

Sesampainya di lokasi pertempuran, jumlah itupun berkurang lagi separuhnya karena faktor usia dan keletihan di tengah jauhnya perjalanan. Maka tersisa lagi 3000 orang, dan itulah jumlah sedikit yang dikatakan Allah akan mampu mengalahkan jumlah yang banyak (QS.2:249).

Simaklah doa kalangan minoritas itu ketika menghadapi rezim kezaliman. Dibawah komando Thalut, pasukan yang sedikit itu berdoa agar diberikan kesabaran dan kemenangan, lalu Allah pun berkenan mengabulkan do’a mereka: “Robbanaa afrigh ‘alaynaa shobron, wa tsabbit aqdaamanaa wanshurnaa ‘alal qowmil kaafiriin.” (QS.2:250)

Proses regenerasi perjuangan ditunjukkan Thalut ketika mempercayakan estafeta kepemimpinan itu kepada Daud muda untuk menghadapi Jalut, pemimpin Amaliqah yang digjaya luar biasa. Hanya dengan senjata sederhana, tiga buah batu ketapelnya berhasil membunuh Jalut yang perkasa. Allah pun memberikan kemenangan yang nyata (fathham mubiinaa).

Apa hikmah/ibroh dari kisah Thalut dan Jalut ini? Bahwa untuk memenangkan da’wah ini shaff kita perlu menyeberangi beberapa kondisi psy war di lapangan. Maka jangan melemah karena besarnya cobaan dan tantangan yang ada. Perkuat keta’atan kepada Allah, Rosul-Nya dan ulil amri minkum (Qiyadah).

Sebetulnya dalam siroh nabawi lainnya, psywar (perang propaganda) itu hadir dengan suasana yang sama-sama dahsyat dan mencekam. Perang Ahzab, perang Khandaq, Tiga tahun masa pemboikotan oleh Bani Quraisy, dan Futuh Makkah, semuanya adalah bentuk psywar. Maka psywar adalah keniscayaan dalam da’wah. Bukan untuk dihindari, tetapi itulah tantangan yang harus kita hadapi, dan akan kita selesaikan dengan cara kita, cara yang diridhoi Allah tentunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.